skip to main | skip to sidebar

Rabu, 12 Oktober 2011

Kurang Konsumsi Daging, Kecerdasan Anak Terancam


(Foto: gettyimages)MENURUT data Direktorat Jenderal Peternakan 2007, konsumsi daging masyarakat Indonesia rata-rata hanya 0,53 kg per kapita setahun. Ini sebabnya banyak anak Indonesia menderita anemia.

Indonesia termasuk salah satu negara yang penduduknya banyak menderita kekurangan zat besi atau anemia. Kasus ini terutama terjadi pada anak-anak karena kurangnya mengonsumsi daging berikut olahannya.

Padahal, standar internasional Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) pada 2008 menetapkan konsumsi rata-rata daging segar adalah 33 kg per kapita setahun. Bicara konsumsi terbaik, kandungan zat besi paling banyak terdapat pada daging sapi. Sayang, kebanyakan anak tidak suka mengonsumsinya.

"Menurut survei yang dilakukan pada September 2011, daging sapi tidak termasuk sumber protein yang disukai anak-anak. Mereka lebih menyukai rasa yang lebih lembut, seperti ikan, telur, dan daging ayam," ungkap Isye Iriani selaku Country Representative Meat & Livestock Australia (MLA) di Indonesia saat ditemui di acara “Let's Cook Beef Well to Help Kids Healthy and Smart” di Energy Cafe, Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu (12/10/2011).

Ia menambahkan, bila anak-anak Indonesia kurang mengonsumsi daging sapi maupun olahannya, tanpa disadari secara perlahan mereka akan kekurangan zat besi. Kondisi anemia ini bila tidak ditangani akan berujung pada rendahnya kecerdasan intelektual anak.

"Kurangnya asupan zat besi sebagai salah satu zat gizi mikro yang sangat penting dan itu dapat menyebabkan suatu kondisi di mana terjadi penurunan kadar hemoglobin," tutupnya.

0 komentar:

Posting Komentar